Search

rss

Jumat, 30 Januari 2009

Arsitektur Masa Hindu-Budha

CANDI BOROBUDUR

Candi borobudur adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi berada kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.Candi ini didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Candi Borobudur berbentuk punden berundak-undak raksasa, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu rendah. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Ruphadatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ke tujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patun
Patung-patung Budha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung tersebut masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibudha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar ini kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama unfinished Buddha.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.


CANDI PRAMBANAN
Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, dengan tinggi bangunan utama adalah 47 meter. Candi ini dibangun dibangun pada sekitar tahun 850 masehi (abad ke-9) oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Candi Prambanan ini pernah mengalami renovasi. Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak pondasinya saja.

Komplek candi ini terdiri dari 8 candi utama, yaitu Candi Syiwa (tengah), Candi Brahma (selatan), Candi Wisnu (utara). Didepannya terletak Candi Wahana (kendaraan) sebagai kendaraan Trimurti; Candi Angkasa adalah kendaraan Brahma (Dewa Penjaga), Candi Nandi (Kerbau) adalah kendaraan Siwa (Dewa Perusak) dan Candi Garuda. Serta lebih daripada 250 candi kecil


CANDI KALASAN
Candi ini mempunyai tinggi 34 meter, panjang dan lebar 45 meter. Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Di sekeliling candi terdapat stupa dengan tinggi kurang lebih 4,60 dan berjumlah 52 buah.


CANDI SEWU
Candi ini merupakan kompleks candi berlatar belakang agama Buddha terbesar di Jawa tengah di samping Borobudur, yang di bangun pada akhir abad VIII masehi. Candi Sewu dahulu merupakan candi kerajaan dan salah satu pusat kegiatan keagamaan.


CANDI SAMBISARI
Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Syiwaistis dari abad ke-X dari keluarga Syailendra ini berada di wilayah kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Saat penggalian kompleks candi Sambisari juga ditemukan benda-benda bersejarah lainnya, misalnya perhiasan, tembikar, prasasti lempengan emas. Dari penemuan tersebut didapat perkiraan bahwa candi Sambisari dibangun tahun 812-838 M saat pemerintahan Raja Rakai Garung dari Kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno).


CANDI KEDULAN
Candi ini memiliki arsitektur mirip Candi Sambisari, tapi dengan seni hias yang lebih kaya. Dari hiasannya justru mendekati Candi Ijo dan Candi Barong.


CANDI BARONG
Candi ini berdasarkan bentuk bangunan, pola hias, arca dan ornamen bangunan. Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad IX-X Masehi. Latar belakang keagamaan candi ini adalah Hindu.


CANDI MENDUT
Candi Mendut didirikan oleh dinasti Syailendra. Bangunan ini berlatar belakang agama Budha. Dibangun sekitar tahun 824 M.Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam.

Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah. Tinggi bangunan candi ini adalah 26,4 meter.


CANDI SINGASARI
Candi ini merupakan salah satu bangunan terbesar dari masa Hindu- Budha di Jawa Timur. Candi ini berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Komplek percandian menempati areal 200 m x 400 m dan terdiri dari beberapa candi. Di sisi barat laut komplek terdapat sepasang arca raksasa besar (tinggi hamper 4m, disebut dwarapala) dan di dekatnya terdapat alun-alun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa candi terletak di komplek pusat kerajaan.

Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas bujursangkar berukuran 14mx14m dan tinggi candi 15 m. Candi ini kaya akan ornamen, ukiran, arca dan relief.


Bila dilihat dari bentuknya, candi-candi di atas mempunyai bentuk yang hampir sama. Walau terdapat perbedaan antara candi yang satu dengan yang lain, itu hanya karena pengaruh budaya derah setempat. Candi-candi di atas banyak mengadopsi gaya arsitektur India, yang kemudian disesuaikan lagi oleh masyarakat setempat. Bahan yang dipakai didominasi oleh batuan, sehingga walau umurnya sudah ratusan tahun masih bias terlihat sampai sekarang.

Zaman Hindu-Budha berperan sebagai babak penting dalam perkembangan budaya di kawasan pulau Jawa. Dipicu intensitas perdagangan maritim, kebudayaan India memperkenalkan konsep arsitektur berteknologi bata dan batu yang diterapkan pada berbagai candi. Pengaruh India juga memperkenalkan pola kosmologi dan gagasan kota sebagai entitas sosial budaya dan politik. Pola ini dilestarikan pada struktur kota pedalaman Jawa yang berpusat pada keraton.
Setelah diterima oleh masyarakat Jawa Kuno, kemudian segala pengaruh budaya luar itu diolah kembali dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan budaya yang telah berkembang sebelumnya (kebudayaan prasejarah Indonesia).

Tidak dapat diingkari bahwa arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah mendapat pengaruh yang kuat dari India. Hal itu terjadi seiring dengan diterimanya agama Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuno. Karena sistem keagamaannya diterima, maka sudah tentu didirikanlah tempat-tempat suci sebagai sarana peribadatannya. Dalam perkembangannya, ternyata arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di Jawa telah mendapatkan coraknya tersendiri yang berbeda dengan bangunan sejenis di India.

Pengaruh agama dari India yang datang ke Jawa diolah lagi oleh para pendeta-pemikir Jawa Kuna, lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siva-Buddha. Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah asalnya.

4 komentar:

  1. Nda Adit, kwan kam d facebook, mpat mmbaca z nah...^_^

    BalasHapus
  2. Sip.. thank's..
    kena ku umpat belajar lawan kam.

    BalasHapus


ShoutMix chat widget

Blog Archive

Daftar Isi

 

Komentar Terakhir

About Me

Foto Saya
Saya kelahiran 25 Oktober 1987 tepatnya di Amuntai. Sampai SMU saya bersekolah di sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan, Marabahan. Dan akhirnya sekarang saya masih tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Arsitektur, Unlam.