Search

rss

Jumat, 20 Mei 2011

ARSITEKTUR GOTIK

Sosial Masyarakat

Kondisi sosial masyarakat masih sama dengan kondisi pada aliran Romanika. Masyarakat saling bersaing mendirikan gereja/ Katedral di tiap kota, dengan kesan yang tinggi (Vertikal). Nama Gothik sebenarnya merupakan ejekan yang dihubungkan dengan orang-orang Goth yang merupakan masyarakat barbar. Sebutan ini dipergunakan oleh orang Renaissance untuk meremehkan kegagalan ahli bangunan Gotik dalam mengikuti mutu klasik zaman Yunani dan Romawi (semula perkembangan kebudayaan dianggap dari Itali seluruhnya: kota-kota Firenze, Venesia, sedangkan yang dari luar diremehkan. Gotik mulai perkembangannya di daerah Perancis).

Seni dan Arsitektur

Sebagai suatu aliran yang khas, gaya Gotik mula-mula muncul pada pemugaran gereja biara St.Denis di dekat Paris. Pemugaran dimulai tahun 1137, yang dipimpin oleh Abas Biara St. Denis, yaitu Suger dari Bangsa Franka. Suger memugar dengan membentuk pelengkung-pelengkung runcing yang berusuk, yang tahan terhadap badai.
Pada perkembangan selanjutnya hiasan semakin meriah dan digenangi cahaya dari kaca-kaca berwarna-warni. Pada penyelesaian akhir, hiasan-hiasan indah menyerupai renda banyak menghias katedral. Atap katedral yang masif dibentuk begitu rupa sehingga bila di suatu tempat rusak dengan mudah dapat diganti.
Untuk menjaga agar atap dan dinding tembok tidak rusak karena air hujan, maka dipasang penyalur air/ talang disepanjang hiasan-hiasan pada bagian atas tembok dan agar tidak hanya bersifat fungsional saja maka dibuat dalam bentuk burung atau binatang yang lain, dinamakan gargouille atau kerongkongan kecil yang menyemprotkan pancaran air cukup jauh dari bangunan.
Membangun katedral biasanya memerlukan waktu yang lama (1 generasi) dan biaya yang banyak, sehingga katedral bergaya Gotik ini merupakan buah karya kota dan karya usaha kerajinan yang terdapat dalam kehidupan kota.
Seni patung yang dahulu dimasukkan sebagai bagian tiang dan hiasan pintu, berkembang dalam bentuk trimatra yang lebih menonjol dan seolah-olah berdiri sendiri. Bentuk-bentuk terlihat simetri dan jelas, sehingga berkesan lebih natural dan lebih hidup dibanding masa sebelumnya. Seni pembuatan kaca warna-warni yang semakin digiatkan oleh gaya Gotik sekitar tahun 1140, mencapai puncaknya ½ abad kemudian berkat jasa pengrajin di Chartres. Pemakaian bahan batu dengan ukuran kecil dimaksudkan untuk mempermudah pengangkutan (transportasi) ketempat pembangunan.

Karakter Arsitektur

Kalau pada gaya Romanika, banyak dipakai menara (menara majemuk), maka pada gaya Gotik ini tradisi tersebut masih berlanjut, dan semakin tinggi dilihat dari skyline secara keseluruhan bila dibandingkan dengan gaya sebelumnya. Yang membedakan adalah kesan berat pada gaya sebelumnya (Romanika), berusaha diperingan dengan mengecilkan kolom serta memperbanyak rib-rib agar dapat menumpu gaya berat dari atap. Secara menyeluruh keseimbangan tetap dipertahankan, disamping penyelesaian ornamen yang semakin rumit serta lengkung-lengkung lancipnya yang menjadi semakin dominan. Arsitektur Gotik melenyapkan rintangan yang ada pada arsitektur sebelumnya (Romanika), dengan memecahkan persoalan yang tidak pernah dapat diatasi sepenuhnya oleh aliran romanika.
Ciri-ciri khas arsitektur aliran Gotik ini adalah:
  • Pelengkung runcing (busur lancip)
  • Kubah berusuk (rib dan panel voulting)
  • Penopang laying (flying buttresses)
Tinggi pelengkung bulat ½ lingkaran pad aliran Romanika tidak dapat melebihi separuh ukuran lebar dasarnya, sehingga busur lancip dapat menjawab persoalan tersebut. Pelengkung (busur) lancip ini dapat ditinggikan sampai yang dikehendaki, asal disesuaikan dengan kekuatan gaya dukung serta daya rentangnya. Kubah berusuk dan pelengkung yang lancip menjadi kesatuan yang utuh dan harmonis. Dukungan yang diberikan pada bangunan sisi luar diperkuat dengan membentuk jembatan batu yang melengkung diatasnya, untuk menopang gaya berat dari atap kubah yang ke bawah dan ke arah luar, sehingga penopang ini disebut sebagai Penopang layang.
Gaya aliran Romanika yang kokoh, tebal, tertutup dan suram didalam bangunan, telah diganti oleh gaya dari aliran Gotik yang lebih langsing, bukaan jendela yang lebar untuk memasukkan cahaya dan kubah serta menara semakin tinggi menjulang berkesan semakin vertikal.

Bangunan Masa Gotik

  • Gothic Cathedral in Palma
  • Peterborough Cathedral, England
  • Münster, Freiburg, Southwestern Germany
  • Reims Cathedral, France
  • Salisbury Cathedral, England

Selengkapnya...

Selasa, 17 Mei 2011

Kuda-Kuda Atap Kayu

Lama tak update ini blog. Mudah-mudahan update yang ini suatu permulaan untuk lebih aktif lagi ngeblognya. :D

Kali ini saya akan berbagi detail-detail kuda-kuda atap yang berbahan kayu. Tidak panjang lebar lagi, silakan diliat :D

Kuda-Kuda Atap Pelana

Kuda-Kuda Atap Runcing

Kuda-Kuda Atap Joglo
Selengkapnya...

Rabu, 27 Januari 2010

ARSITEKTUR ROMANIKA

Sosial Masyarakat

Abad pertengahan merupakan abad Iman, dimana sebagian besar masyarakatnya mempunyai orientasi pada gereja/cathedral dikotanya masing-masing. Segala pengabdiannya dicurahkan pada kepentingan gereja. Kondisi masyarakat diluar gereja tidak tertangani, akan tetapi gereja banyak mendirikan badan-badan social untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, misalnya rumah sakit serta rumah-rumah untuk menampung kaum miskin.
Di tiap kota, masyarakat membangun cathedral, serta berlomba untuk saling memegahkan Kathedral kotanya masing-masing, karena dengan demikian kota tersebut beserta isinya akan mendapatkan berkah. Menara-menara kkathedralnya haruslah paling tinggi, hiasannya harus yang paling mewah, ini membuktikan bahwa mereka memiliki rasa berbakti yang lebih besar dari kota tetangganya.

Disamping itu semakin susutnya kekaisaran Romawi menyebabkan Imperium terpecah menjadi negara-negara kecil merdeka. Penyerbu dari luar dengan mudah masuk wilayah Romawi, sehingga rakyat memerlukan tempat untuk berlindung. Sebagai akibatnya banyak bermunculan para pelindung selain gereja, yaitu para tuan tanah. Imbalan atas perlindungan tersebut adalah pengabdian seumur hidup. Denga demikian bermunculan feodalisme dari kata ‘feudum’ yanga artinya tanah pinjaman. Di tiap wilayah kaum feudal dibangun tembok sebagai benteng perlindungan daris serangan penyerbu. Pada akhirnya semua kota dilengkapi dengan benteng yang diberi pintu gerbang, dikelilingi parit untuk pengamanan dan jembatan masuk dapat ditarik keatas.
Perkembangan wilayahnya menunjukkan kemajuan perkembangan kota. Tiap kota mula-mula dikuasai oleh seorang abas, selanjutnya otonomi kota berkembang sehingga kebanyakan kota mempunyai dewan kota yang terdiri dari wakil-wakil niaga.
Kota-kota yang dalam jangka waktu lama berkembang karena gereja, lambat laun berkembang karena niaga/perdagangan, sehingga orientasi dialihkan pada pertukaran nilai uang (ekonomi).
Dewan menarik pajak serta mengawasi segala pembangunan dan mengorganisir penyediaan bahan makanan bagi kota.

Seni, Teknologi dan Arsitektur
Abad pertengahan/abad Iman, menggarap karyanya yang agung tidak ‘demi seni’, seperti yang dilakukan bangsa Yunani, tetapi demi makin besarnya kemuliaan Tuhan mereka.Seni patung digunakan untuk memberi kesan ringan pada gaya Romanika yang serba berat. Dengan tema keagamaan, semua permukaan tidak luput dari hiasan pahat berukir, baik bagian luar maupun pada bagian dalam disepuh keemasan.

Teknologi dan Arsitektur
Dalam suasana demikian, gaya Romanesque (Romanika) berkembang dan mencapai kematangan. Berbagai corak antara lain Toscana, sisilia, Rhein, dsb, akan tetapi semua mempunyai bahan dasar yang sama, yaitu:
  • Batu kecil atau bata, karena untuk menggunakan batu yang lebih besar, para pembangun belum mengetahui tekniknya.
  • Teknologi atap kayu (seperti gaya Kristen Lama), sering terbakar, sehingga selanjutnya digunakan batu tebal berbentuk silender untuk atap gereja Romanika. Atap kubah seperti Tong ini sangat berat, untuk itu membutuhkan penyanggah yang sangat kuat, sehingga bagian-bagian kolom yang bertekanan berat harus dipertebal dan diperbesar.
Oleh karena kolom-kolomnya sangat kokoh, tebal dan besar, maka bidang untuk bukaan pintu dan jendela menjadi lebih sempit. Dengan demikian kesan secara keseluruhan adalah kokoh, berat, bukaan kecil dan sedikit pada pintu dan jendela.
Konsep memasukkan cahaya Illahi (untuk menerangi pikiran manusia menjadi terhambat, karena cahaya yang masuk tidak dapat terlampau banyak).
Sinar matahari sedikit yang dapat mencapai ruang dalam, sehingga berkesan tidak terang. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pada ruang dalam diberi warna-warni yang kemilau dan cerah keemasan, baik pada dinding maupun langit-langit. Kandil-kandil keemasan pun menghiasi ruang dalam, sehingga cahayanya terpantul ke segala arah serta terang.


Karakter Arsitektur
Sekitar tahun 800 Masehi, Karel Agung dari Franka, mendirikan kapel di Aachen (ibukota) bagi dirinya. Gereja tersebut mengambil unsur Romawi dan Bizantium. Bentuk Poligonal diambil dari gaya Bizantium, sedangkan tembok tebal, pelengkung ½ lingkaran besar serta irama gagah menurut gaya Romawi.
Menara simetris adalah unsur yang baru. Kedua menara ini mengapit pintu masuknya sehingga secara keeluruhan merupakan bagian yang utuh dan seimbang. Tujuan akhir adalah memberikan kesan yang tangguh dan mempesona, hal ini sungguh berhasil diciptakan. Bangunan pintu gerbang semacam ini kemudian disebut sebagai ‘bangunan barat’, karena letaknya pada sisi barat sebagai pintu masuk (diakhiri oleh apse disebelah timur).
Karakter arsitektur Romanika sangat kontra dengan prinsip Romawi kuno, meskipun aliran ini menurut pada Romawi. Aliran romanika mulai menggunakan keseimbangan. Keseimbangan dimana kubah sudah tidak terpusat pada satu titik saja.
Sumbangan khas aliran Romanika adalah menaranya yang banyak/ majemuk, dengan penempatan yang seimbang menghiasi gereja. Secara umum, aliran Romanika adalah berkesan megah, dimana bentuknya terjadi karena kumpulan menara. Gereja dibubuhi banyak menara, menara lonceng , menara tangga serta menara pengawas, sehingga arti menara sangat penting. Sejak saat itu gereja mengalami pembaharuan (abad ke 11), dan menurut perkiraan, di Perancis saja pada abad ke 11 dibangun 1587 gereja.

Analisa Perbandingan
Denah:
Basilika Romawi yang menjadi model dasar bagi gereja Kristen lama, dikembangkan oleh aliran Romanika. Tembok tebal, pelengkung bundar besar dengan irama gagah.
Bentuk denah polygon diambil dari gaya Bizantium, dengan ditambah transept dan sanctuary hingga membentuk cross.
Atap:
Atap dengan ketebalan yang sama sehingga bebannya berat, sehingga harus ditopang oleh kolom-kolom yang besar pula.
Bukaan Pintu dan Jendela:
Dengan kolom yang besar dan tebal, maka bukaan pintu dan jendela menjadi kecil, sehingga sinar yang masuk ruang dalam sangat sedikit.

Bangunan Masa Romanika
  1. Katedral Pisa, kompleks cathedral Pisa dilengkapi dengan:
    • Denah basilika
    • Kolom dilengkapi dengan Aisle
    • Nave selalu memakai atap kayu
    • Transep dengan Apse diujungnya (sebagai akhiran) memakai bentuk segmental.
    • Menara lonceng (campanile) mempunyai ketinggian dan diameter serta terdiri dari 8 lantai, sekarang keadaannya miring.

2. Katedral Achen

3. Cathedral in Pécs, Hungaria



Selengkapnya...

Selasa, 26 Januari 2010

ARSITEKTUR BYZANTIUM

Sosial Masyarakat
Bizantium adalah pewaris langsung kekaisaran terakhir Romawi dan merupakan bangsa Kristen yang pertama. Orang Bizantium mensistemasikan hukum Romawi dan senatnya juga mencontoh pola senat Romawi, namun masih didukung oleh kaum Biara dan mencari nasehat dibidang politik pada kaum Mistikus.
Tiga aspek kehidupan orang Bizantium yang menonjol adalah keagamaan, intrik kerajaan dan sirkus-sirkus popular yang spektakuler (sulap).
Kehidupan kota dipusatkan disekeliling 3 bangunan penting yaitu kelompok gedung Hypodrom, Istana suci kekaisaran dan Gereja Hagia Sophia, dimana ke 3 bangunan ini mewakili 3 unsur dunia Bizantium yaitu rakyat, kekuasaan kaisar dan agama. Ketiga gedung ini terletak serasi berdekatan serta dihubungkan oleh Mese atau jalan tengah, yaitu suatu jalan yangs selalu dipakai untuk upacara kenegaraan dan keagamaan (jalan protocol menuju ke bangunan penting).

Seni dan Arsitektur
Salah satu segi terpenting bagi kota baru Konstantinopel adalah kota tersebut bukan merupakan duplikat dari kota Roma yaitu dengan dibangun gereja Kristen pertama Hagia Sophia serta menyelesaikan banyak gereja lainnya.
Seni dekorasi motif Mosaic yang cemerlang dan gemerlapan berkembang pesat. Sedangkan Arsitektur bangunan bersegi banyak dengan atap kubah bermunculan dimanapun, dibukit Yugoslavia, dilembah Rumania digurun Suria Bizantium yang mengembangkan hirarki bentuk semacam itu.
Hasil pembangunan kota Konstantinopel, meliputi banyak bangunan antara lain 2 gedung teatre, 8 pemandian umum, 153 pemandian prbadi, 5 lumbung, 8 akuaduk, 14 gereja, 14 istana dan 4388 rumah tinggal yang cukup besar, dan masih banyak lagi fasilitas umum, misalnya rumah sakit, pasar serta perumahan penduduk yang tidak tercatat kota menampung sekitar 600.000 orang penduduk.

Karakter Arsitektur
  • Gereja Bizantium merupakan bentuk Basilika pada mulanya setelah berkembang membentuk polanya sendiri yaitu pola gereja Byzantium yaitu Kubah Majemuk, kubah Bola serta Denah terpusat. Karena daerah ini berhadapan langsung dengan daerah Asia Kecil, maka pengaruhnya banyak yang masuk antara lain, kubah-kubah untuk menutup denah segi-4 maupun polygonal dari gereja, makam maupun baptistery, hal ini muali dikembangkan pada abad 5.
  • Praktek penggunaan kubah, memakai konstruksi atap yang sangat sederhana dengan atap kayu aliran Kristen Lama, maupun atap lengkung aliran Romawi dari batu.
  • Sistem konstruksi beton dari Romawi dikembangkan dengan pesat. Kubah yang merupakan ciri dari daerah timur, menjadi model atap Byzantium yang merupakan penggabungan dari Konstruksi kubah dan sudut model Yunani dan Romawi.
  • Type-type kubah yang diletakkan diatas denah segi-4 dilengkapi dengan jendela kecil-kecil diatas, disebut Pendetive, dimana pada masa Romawi kubahnya hanya menutup bentuk denah melingkar atau polygonal. Sedangkan bahan pendetive tersebut dipakai bahan bata atau batu apung yang disebut Purnise. Kubah dibuat tanpa menggunakan penunjang sementara (bekisting). Kubah bola utama tersebut melambangkan Surga menurut ajarannya, sedangkan kubah-kubah sudut atau disebut Squinch untuk menggambarkan ajarannya dalam bentuk mosaic antara Bema atau bilik suci dengan Naos atau ruang induk atau nave, dipisahkan oleh Iconostatis atau penyekat, sebagi screen of picture “tirai”.
  • Bentuk Eksterior, kadang tidak berhubungan/ tidak ada kesatuan dengan bentuk interiornya.
  • Arsitektur Bizantium dibagi dalam 3 periode, yakni periode awal, pertengahan dan akhir.
Periode Bizantium awal, dari permulaan abad ke 6 sampai pertengahan abad ke 9 adalah abad eksperimen desain bangunan. Bentuk Basilika yang memanjang masih dipakai, akan tetapi tidak cocok dengan kebiasaan setempat yang mempersembahkan misa di tengah-tengah ruang utama gereja dan buka pada salah satu sudut ruangnya,s ehingga denah basilica yang memanjang tidak dapat untuk upacara tersebut. Sedangkan salib Yunani yang panjang keempat sayap sama, lebih cocok digunakan untuk upacara tersebut.
Kebanyakan gereja berukuran kecil, bagian dalam berkesan terang dan luas karena kesederhanaan bentuk pilaster dan pelengkung tanpa hiasan serta terang yang diperoleh dari bukaan jendela dan pintu yang leber, juga lubang-lubang yang dibuat pada atap kubahnya.

Dalam periode pertengahan antara akhir abad ke 9 sampai pertengahan abad ke 13 tidak lagi mempergunakan 1 type dasar bangunan gereja, di masa ini digunakan 4 gaya terpusat yang berbeda masing-masing terdiri dari inti kubah yang dibentuk menjadi beraneka ragam kombinasi antara lain segi-8 dan bujur sangkar, sedangkan bagian sudut berkubah dihubungkan dengan ruang inti dengan mengurangi ukuran pilaster, sehingga berkesan luas. Kesan lembut diperoleh dari hiasan yang rumit, dan bagian dalam menjadi remang-remang. Sedangkan kesederhanaan dan ketegasan bentuk pada periode sebelumnya hilang.

Periode akhir hampir sama dengan periode pertengahan, sedangkan pengembangannya ditekankan pada unsur vertical baik bagian luar maupun dalamnya. Gereja periode pertengahan biasanya mempunyai satu kubah bola, pada periode akhir mempunyai 5 kubah bola, yaitu kubah besar ditengah dan kubah yang lebih kecil pada masing-masing sudutnya.


Analisa Perbandingan
Denah:
  • segi empat polygonal, yang ditutup dengan atap kubah dan kubah kecil mengelilingi kubah utama, sehingga bentuknya memusat serta simetris.
  • sayap pendek yang sama pasa setiap sisinya, mengambi bentuk cross.
Dinding:
  • Memakai bahan bata, dan dibagian dalam (interiornya) dilapisi dengan mosaic yang terbuat dari pualam warna-warni yangmenggambarkan ajarannya.
Bukaan Pintu dan Jendela:
  • Busur ½ lingkaran dipakai untuk menunjang galery dan bukaan pada pintu dan jendela
  • Jendela-jendela kecil ½ lingkaran mengelilingi dasar kubah (pendetive)
Atap:
  • metode pembuatan atap dari bahan batu ataupun beton
  • Kubah dibentuk dengan type - simple (biasa ½ lingkaran)
  • melon shaped (kubah belewah)
  • compound (majemuk)
Kolom:
  • kolom-kolomnya konstruktif, dengan kepala tiang (capital) bergaya Korintia dan Komposit.
Sky Line:
  • Secara keseluruhan pandang, gereja izantium merupakan kelompok banyak kubah yang mengelilingi kubah utama secara simetris, sehingga berkesan vertikal.

Bangunan Masa Byzantium
1. Gereja Hagia Sophia
Dibangun pada masa kaisar pertama Constantin dan diperbaiki kembali setelah terbakar dan hancur oleh Kaisar Yustinianus pada tahun 517 AD. Bangunan ini merupakan masterpiece dari masa Byzantium, terbesar dan tertinggi diantara gereja lain di Konstantinopel. Gerja ini menjadi pusat pemerintahan dunia Kristen Orthodoks.
Lebar gereja mencapai 305 meter dan tinggi ± 548 meter, dengan sekeliling dinding yang dihias mosaic warna warni serta cmerlang keemasan. Arsitek (pada zaman Yustinianus) adalah Isodorus dari Miletus dan Anthemius dari Tralles.
Bangunan ini pada tahun 1453 M, diduduki oleh bangsa Turki dan diubah menjadi Mesjid, dengan mnghilangkan bagian-bagian yang berhias gambar makhluk hidup.


2. Forum Constantinous
Merupakan forum besar diantara 6 forum umum kota, didominasi oleh porfir. Disini para kaisar merayakan kemenangannya, para saudagar bertemu membicarakan usaha mereka dan lain-lain kegiatan penduduk.

3. Hypodrom
Letaknya berdekatan dengan gereja Hagia Sophia, bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk pertunjukan pacuan kereta pada mulanya, selanjutnya berkembang untuk tontonan serbaguna, pertarungan tombak, akrobat dan lain-lain.
Bangunan ini sangat mirip dengan Circus Maximus yang ada di Roma, dimana panjang arenanya mencapai 396 meter.
Selengkapnya...

Senin, 25 Januari 2010

ARSITEKTUR RENAISSANCE

Seni Teknologi dan Arsitektur

Kegiatan keagamaan di Eropa memanfaatkan media cetak, dimana sistem cetak ini merupakan penemuan baru. Buku–buku agama berkembang dengan cepat dan luas. Sebagai efek samping buku-buku literatur gereja banyak pula dikembangkan keluar, termasuk buku-buku pengetahuan tentang budaya Romawi dimasa lampau (yang menjadi titik pusat perhatian masyarakat pada waktu itu, karena dianggap dapat menjawab permasalahan). Dengan perkembangan buku-buku literatur secara cepat dan meluas, maka berkembanglah babakan baru untuk intelektualitas masyarakat serta pembaharuan dalam pola pikir.
Giotto adalah seniman Renaissance dari Firence yang pertama kali menguasai penggunaan perspektif mekanis, pemakaian bentuk anatomi manusia, serta eksperimen tentang “chiaroscuro” yaitu suatu cara melukis bayangan dengan maksud memberikan ketajaman pada bentuk-bentuk yang terkena bayangan, ini merupakan 3 unsur pokok bagi pelukis masa Renaissance pada awalnya. Dengan demikian lukisan yang dihasilkan lebih mendekati obyektifitas dan lebih realistis.
Selanjutnya “azas perspektif mekanis” ditemukan oleh arsitek Brunelleschi, yang menemukan prinsip-prinsipnya pada waktu ia menelaah proporsi bangunan Romawi kuno. Penemuan prinsip ini sangat menggairahkan seniman sezamannya, sehingga pada aliran Renaissance ini hampir semua hasil karya seni memakai prinsip teknik perspektif. Azas-azas perspektif, suatu telaah yang mempesonakan seniman Renaissance memperlihatkan bagaimana perspektif mengungkapkan kesan kedalaman suatu permukaan yang datar, semua garis bertemu pada satu “titik lenyap” sehingga pedoman ini dipakai dalam sketsa sebelum mulai melukis.
Teknik “Sfumato” sebagai pengembangan dari teknik Chiaroscuro, yakni pengaburan atau peremangan garis bentuk suatu benda sehingga menyatu dengan keadaan sekelilingnya, sehingga memperkuat kesan obyek, semakin dikenal.

Karakter Arsitektur
Proporsi yang harmonis menguasai perhatian arsitek seniman Renaissance, yang berusaha menghubungkan matra tiap bagian utama bangunannya dengan satu modul, atau satuan panjang yang menjadi dasar. Contoh proporsi Michaelangelo yang rumit pada rancangan gereja St. Petrus (yang tak pernah dilaksanakan), adalah satuan bangunan diukur secara vertical dengan perbandingan 3 : 2 : 1. garis bentuk bangunan merupakan segitiga samasisi, merupakan bentuk geometris yang benar-benar simetri.

Analisa Perbandingan
  • Bentuk denah keseluruhan simetri
  • Menara lebih sederhana dalam bentuk maupun jumlahnya
  • Kesan skyline horizontal
  • Atap kembali pada ½ lingkaran tanpa rib/ rusuk, sehingga ketebalannya sama (kesan kekokohan Romawi ditonjolkan kembali)
  • Pedoman klasik (Yunani + Romawi) dipergunakan kembali dan distandarkan menurut pemikiran humanis.

Bangunan Masa Renaissance
  • Gereja Basilika St. Petrus di Roma (Vatikan)
Pembangunan gereja Basilika ini mulai tahun 1506, untuk menggantikan sebuah gereja yang sudah berumur 1200 tahun, yang berdiri diatas makam St. Petrus (Zaman Kristen Awal).
Setelah para arsitek bersaing untuk mengajukan rancangannya, pemenangnya adalah Donate Bramante. Kemudian para arsitek lainnya seperti Raffaelo dan Michaelangelo berulangkali melakukan perubahan besar. Ketika Kathedral itu selesai dibangun pada tahun 1623, hanya kubah besarnya saja rancangan Michaelangelo yang menyerupai rencana asli.
Diatas deretan pilar, berdiri patung-patung besar (orang-orang yang dihormati dalam agama Kristen) menghadap halaman dalam bentuk oval. Patung tersebut bergaya barok yang dirancang oleh Bernini puluhan tahun kemudian.
  • Doges Palace, Venice
  • Duomo Florence, Italy
  • El Escorial, Spain
  • Villa Barbaro, Maser, Italy
  • Papal Palace, Avignon, France
Selengkapnya...

Selasa, 02 Juni 2009

Gara-Gara Facebook

Waw.. udah lama banget ga nulis. Gara-gara apa gerangan? Malas aja mungkin. Tapi kalo dipikir-pikir ga juga, online aja hampir tiap hari. Kalo diliat-liat gara-garanya mungkin sibuk ngerjai tugas-tugas dan entah itu tugas siapa. Satu lagi nih gara-garanya, facebook. Ini situs kayanya sudah menghipnotis saya. Tiap online situs pertama yang dibuka pasti facebook. Sialnya lagi, yang awalnya niat nyari bahan buat tugas akhir a.k.a TA pasti kalah sama facebook.

Mulai sekarang saya janji, harus bisa ngatur waktu, jangan facebook terus. Selengkapnya...


ShoutMix chat widget

Blog Archive

Daftar Isi

 

Komentar Terakhir

About Me

Foto saya
Saya kelahiran 25 Oktober 1987 tepatnya di Amuntai. Sampai SMU saya bersekolah di sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan, Marabahan. Dan akhirnya sekarang saya masih tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Arsitektur, Unlam.