Search

rss

Minggu, 08 Februari 2009

Rangka & Dinding Bangunan


Rangka bangunan adalah bagian dari bangunan yang merupakan struktur utama pendukung berat bangunan dan beban luar yang bekerja padanya. Untuk bangunan sederhana, rangka bangunan dapat dibuat dari tiang-tiang kayu (kolom) yang saling dihubungkan oleh batang-batang datar (balok). Pada bangunan rumah tinggal yang permanen, rangka bangunan dibuat dari konstruksi beton bertulang dengan dinding dari pasangan batu bata atau batako. Untuk bangunan bertingkat sederhana/rendah, umumnya berupa struktur rangka portal (frame structure) yaitu kerangka yang terdiri dari kolom dan balok.

Pada sistem rangka, dinding penyekat tidak diperhitungkan ikut mendukung beban. Dinding berfungsi hanya sebagai pembatas ruang. Dinding sebaiknya dibuat jangan terlalu tebal agar berat dinding dapat seringan mungkin, sehingga ukuran rangka portal dan pondasi dapat dibuat menjadi lebih kecil pula.

Rangka bangunan harus dibuat dengan beberapa syarat, antara lain :
  • Mempunyai kekuatan dan kestabilan yang mantap untuk memberikan bentuk yang permanen dan mampu mendukung konstruksi atap
  • Dapat memberikan keindahan
  • Dibuat dengan bentuk sedemikian, sehingga dapat memberikan kenyamanan tinggal bagi penghuni
Rangka portal harus direncanakan dan diperhitungkan kekuatannya terhadap beban-beban seperti :
  • Beban mati : berat dari semua beban bangunan yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, pekerjaan pelengkap (finishing), alat atau mesin yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rangka bangunannya.
  • Beban hidup : berat dari penghuni dan atau barang-barang yang dapat berpindah
  • Beban angin : beban yang bekerja pada bangunan atau bagiannya karena adanya selisih tekanan udara (hembusan angin kencang)
  • Beban gempa : besarnya getaran yang terjadi di dalam struktur rangka bangunan akibat adanya gerakan tanah oleh gempa, dihitung berdasarkan suatu analisa dinamik
  • Beban khusus : beban kerja yang antara lain berasal dari adanya selisih suhu, penurunan pondasi,susut bahan.
Untuk bangunan tidak bertingkat yang dinding-dinding penyekatnya dari pasangan batu bata, harus diberi perkuatan konstruksi beton bertulang praktis yaitu balok sloof, kolom praktis dan balok atas (ringbalk). Konstruksi beton bertulang praktis tidak diharuskan dilakukan hitungan mekanik untuk perencanaan dimensi beton dan jumlah penulangannya. Pemakaian konstruksi beton bertulang praktis pada bangunan tidak bertingkat selain sebagai perkuatan pasangan batu bata juga sebagai syarat untuk bangunan tahan gempa.

Balok sloof dipasang di atas seluruh panjang pondasi, untuk mendukung dan meratakan beban tembok di atasnya dan meneruskannya ke pondasi di bawahnya. Balok sloof ini juga berfungsi sebagai trasraam yang dapat mencegah naiknya air dari bawah ke atas tembok.
Ukuran balok sloof :
  • Untuk dinding ½ batu : 15/15 atau 15/20 atau 20/20
  • Untuk dinding 1 batu : 25/25 atau 25/30 atau 30/30
Agar balok sloof nantinya tidak mengganggu pemasangan bahan penutup lantai (tegel, keramik ) lantai, maka tinggi pemasangannya harus berada 10 cm di bawah permukaan lantai rencana. Tapi juga jangan terlalu jauh di bawah lantai, karena akan menyebabkan tinggi pasangan bata trasraam menjadi besar dan urugan pasir di bawah lantai menjadi sangat tebal.

Kolom praktis sebagai perkuatan dipasang pada :
  • Setiap jarak 3 m pada pasangan tembok lurus
  • Pertemuan-pertemuan tembok (pertemuan sudut, persilangan, dan sebagainya)
  • Kanan – kiri lubang pintu dan jendela untuk pegangan dan jepitan kusen

Kolom praktis dapat berfungsi sebagai tiang pendukung yang berdiri bebas. Ukuran tampang beton untuk kolom praktis ini dibuat sama dengan tebal temboknya, agar dapat diperoleh permukaan dinding yang rata dan rapi, Untuk dinding ½ batu dapat digunakan ukuran 15/15 atau 15/20. Untuk dinding 1 batu dapat digunakan ukuran 25/25 atau 25/30. Kolom praktis ini dibagian bawah bertumpu dan dijepit pada balok sloof, sedang bagian atas dirangkai menjadi satu oleh balok atas.

Supaya antara kolom praktis dan tembok batanya menjadi satu dan mempunyai hubungan yang kuat, maka pada kolom praktis diberi angker yang mengait pasangan bata di bagian kanan – kiri kolom. Adukan betonnya di cor sesudah pasangan bata selesai dikerjakan lebih dahulu. Pada bagian atas pasangan bata diberi suatu balok penjepit yang disebut balok atas, Fungsinya untuk meratakan beban kuda-kuda dan rangka plafon ke dinding atau kolom di bawahnya. Bila pasangan bata lebih dari 4 m, maka balok atas harus dipasang di 2 (dua) tempat yaitu di tengah (di atas kusen pintu dan jendela) dan di atas pasangan bata tersebut. Ukuran beton dan isi tulangan untuk balok atas dibuat sama dengan ukuran balok sloof.


Dinding pasangan bata di atas balok sloof harus dibuat kedap air/ trasraam dengan campuran 1 semen : 2 pasir. Hal ini untuk mencegah naiknya air secara kapiler ke atas. Tinggi pasangan trasraam dibuat 20 cm di bawah dan di atas lantai +/- 0,00. Apabila sudah dipakai balok sloof, tinggi trasraam mulai balok sloof sampai 20 cm di atas lantai +/- 0,00. Pasangan trasraam ini juga dibuat pada bagian-bagian lain yang selalu basah atau selalu terkena air seperti dinding kamar mandi, tempat cucian dan dinding di luar yang tidak terlindung atap. Untuk dinding kamar mandi pasangan trasraam dapat dibuat dengan ketinggian sampai dengan 1,50 m dari atas lantai.

Untuk merekatkan bata-bata sebagai pasangan tembok, dipakai adukan perekat 1 kapur : 1 semen merah : 2 pasir atau 1 semen : 5 pasir. Bahan-bahan ini dicampur dalam keadaan kering dan disaring halus. Bagian yang berbutir besar dibuang, yang dipakai hanya bahan yang dapat melewati saringan. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur air sampai diperoleh adonan yang lekat. Untuk adukan dari semen dan pasir, yang disaring cukup pasirnya saja dan butiran yang dapat lewat saringan yang dipakai sebagai campurannya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan dinding dari batu bata :
  • Bata harus dibasahi sampai gelembung udara dalam bata ke luar semua
  • Tidak boleh ada perekat tegak yang merupakan satu garis lurus dari bawah sampai ke atas. Untuk pasangan ½ batu selisih perekat tegak ½ batu dan untuk pasangan 1 batu selisih perekat tegak ¼ batu.
  • Bata potongan yang kurang dari ½ batu sebaiknya tidak dipergunakan lagi
  • Ketinggian pemasangan bata setiap harinya tidak lebih dari 1 m
  • Untuk memperoleh pasangan bata yang tegak dan lurus, dipakai bantuan batang kayu yang dipasang berdiri tegak lurus pada kedua tepinya.
Untuk membuat dinding pasangan bata menjadi halus, rapi dan bersih dapat ditutup dengan lapis penutup yang disebut plesteran. Bahan campuran untuk plesteran dibuat sama dengan bahan untuk pasangan batanya. Pada plesteran tepi atau sponneng harus dibuat dengan campuran 1 semen : 2 pasir agar kuat dan tidak mudah rusak. Tebal plesteran antara 1,5 – 2 cm. Pasangan bata yang akan diplester harus dibasahi, dibersihkan dari kotoran dan lumut yang melekat. Untuk memberi warna pada plesteran dapat dipakai kapur atau cat tembok. Pada dinding luar harus digunakan cat tembok yang tahan terhadap pengaruh cuaca luar agar tidak mudah mengelupas dan luntur.

8 komentar:

  1. trims, artikelnya,,
    ngebantu banget,,untuk tambah2 pengetahuan ttg t.sipil
    :)

    BalasHapus
  2. trims artikelnya sangat membantu diriku,godless U

    BalasHapus
  3. kd beisi tentang balok kh pian??

    BalasHapus
  4. wah2.. bagus ini bwat ank sipil jg

    BalasHapus
  5. Mas Roby, saya bermaksud membuat bangunan tingkat diatas teras yg berfungsi sebagai garasi saya. Sayangnya, saya hanya dapat membuat 3 tiang beton sebagai penyangga, agar fungsi garasi tetap dapat dipertahankan. Pertanyaannya : apakah itu dimungkinkan bangunan bertingkat hanya menggunakan 3 tiang penyangga? apabila mungkin, seberapa besar tiang penyangga yg diperlukan? ukuran luas yg akan saya buat bertingkat adalah ukuran 3X6 M2.
    Terima kasih atas bantuannya mas.
    Salam, Andi.

    BalasHapus
  6. trims sharing ilmunya, yahud dan bermanfaat sekali, sukses! :)

    BalasHapus


ShoutMix chat widget

Blog Archive

Daftar Isi

 

Komentar Terakhir

About Me

Foto Saya
Saya kelahiran 25 Oktober 1987 tepatnya di Amuntai. Sampai SMU saya bersekolah di sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan, Marabahan. Dan akhirnya sekarang saya masih tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Arsitektur, Unlam.